“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sabda ini bukan sekadar etika berbicara, melainkan disiplin membentuk kesadaran.
Al-Qur’an memerintahkan, “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik” (QS. Al-Isrā’ [17]: 53), sebab kata-kata yang buruk membuka ruang bagi perselisihan.
Sebaliknya, ucapan yang baik menumbuhkan kepercayaan, memperkuat ikatan sosial, dan meredakan konflik. Ketika tidak ada kebaikan yang dapat disampaikan, diam menjadi bentuk pengendalian diri, bukan kelemahan.
Secara psikologis, kebiasaan menimbang kata sebelum berbicara melatih kesabaran, mengurangi dorongan impulsif, serta menjaga kejernihan hati dari penyesalan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa seseorang dapat tergelincir ke dalam kebinasaan hanya karena satu ucapan yang tidak dipikirkan (HR. Bukhari).
Itulah mengapa kualitas iman tidak hanya tampak pada apa yang diucapkan, tetapi juga pada kebijaksanaan memilih untuk tidak mengucapkannya.
“Lisan yang terjaga tidak hanya menyelamatkan hubungan antarmanusia, tetapi juga menjaga kejernihan hati di hadapan Allah.”
Bibliografi
Al-Qur’an, QS. Al-Isrā’ [17]: 53.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitab al-Adab: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Ṣaḥīḥ Muslim, Kitab al-Īmān, riwayat dengan lafaz yang semakna.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang seseorang yang tergelincir ke dalam kebinasaan karena satu ucapan yang tidak dipikirkan.
