Di sebuah aula sederhana di Rasabou, puluhan remaja berkumpul pada Sabtu, 18 April 2026. Mereka bukan sekadar menghadiri seminar, melainkan merespons keresahan bersama: kenakalan remaja yang kian marak. Dengan moto “Teguhkan Iman, Cerahkan Peradaban”, Ikatan Remaja Masjid Rasabou mencoba menegaskan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan generasi muda.
Suasana seminar terasa hangat. Narasumber berbicara lugas tentang tantangan moral di era digital, sementara peserta menyimak dengan serius. “Remaja sering dianggap masalah, padahal mereka adalah potensi,” ujar salah satu pembicara. Pernyataan itu disambut anggukan, seolah meneguhkan keyakinan bahwa arah dan teladan lebih penting daripada hukuman semata.
Diskusi berkembang ke isu yang lebih luas: bagaimana lingkungan sosial, keluarga, dan komunitas berperan dalam membentuk perilaku remaja. Para peserta menilai bahwa kenakalan tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari lemahnya pendampingan dan minimnya ruang aman untuk berekspresi. Masjid, dalam pandangan mereka, bisa menjadi ruang alternatif yang menumbuhkan budaya positif.
Seminar ditutup dengan komitmen kolektif: ikatan remaja masjid harus tumbuh berdaya dan berbudaya. Tidak hanya aktif dalam kegiatan ritual, tetapi juga membangun literasi, solidaritas sosial, dan kepedulian lingkungan. Rasabou pun menegaskan dirinya sebagai contoh bagaimana komunitas lokal dapat menjawab tantangan global melalui kekuatan iman dan budaya.
