Nikmat adalah anugerah Allah yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagian nikmat melekat pada diri kita, seperti kesehatan, akal, iman, dan kehidupan. Sebagian lainnya hadir di sekitar kita, berupa keluarga, alam, udara, dan rezeki yang mengalir.
Nikmat yang melekat pada diri kita adalah modal utama untuk beribadah dan beramal. Tanpa kesehatan, kita sulit bersujud; tanpa akal, kita tidak mampu membedakan benar dan salah. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Hadis ini mengingatkan agar kita tidak lalai mensyukuri nikmat yang ada dalam diri.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34). Ayat ini menegaskan bahwa nikmat Allah begitu luas, meliputi yang tampak maupun yang tersembunyi.
Sementara nikmat di sekitar kita, seperti keluarga, sahabat, dan lingkungan, adalah penopang kehidupan. Mereka memberi dukungan, kasih sayang, dan kesempatan untuk berbagi. Alam yang indah pun menjadi tanda kebesaran Allah.
Semua ini menuntut kita untuk bersyukur, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7).
Dengan menyadari nikmat yang melekat pada diri dan yang ada di sekitar, kita terdorong untuk hidup penuh syukur, menjaga amanah, dan memanfaatkan setiap karunia Allah dengan sebaik-baiknya.
