Jaminan Ilahi atas Wahyu

Hadis kelima dalam Shahih al-Bukhari meriwayatkan pengalaman Nabi Muhammad ﷺ saat menerima wahyu, di mana beliau menggerakkan bibir karena khawatir lupa. Allah menegaskan bahwa pengumpulan, bacaan, dan penjelasan Al-Qur’an adalah tanggung jawab-Nya, meneguhkan jaminan ilahi atas kesempurnaan wahyu.

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِي عَائِشَةَ، قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي قَوْلِهِ تَعَالَى:

{لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ}
قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَالِجُ مِنَ التَّنْزِيلِ شِدَّةً، وَكَانَ يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ.

Dari Ibnu Abbas r.a. mengenai firman Allah Ta’ala: “Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena ingin segera menguasainya” (QS. Al-Qiyamah: 16).

Beliau berkata: Rasulullah ﷺ mengalami kesulitan ketika menerima wahyu, sehingga beliau menggerakkan kedua bibirnya. Lalu Allah menurunkan ayat:

Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya. Kemudian atas tanggungan Kami-lah penjelasannya.” (QS. Al-Qiyamah: 17–19).

Ringkasan Hadis

⦁ Nabi Muhammad ﷺ mengalami kesulitan saat menerima wahyu.
⦁ Beliau berusaha cepat menggerakkan bibir agar tidak lupa.
⦁ Allah menegaskan bahwa pengumpulan, bacaan, dan penjelasan Al-Qur’an adalah tanggung jawab-Nya.
⦁ Nabi hanya perlu mendengarkan dan mengikuti bacaan wahyu.

Tema Utama

Spiritual. Wahyu adalah proses ilahi yang dijaga langsung oleh Allah. Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hasil usaha manusia, melainkan firman Allah yang diturunkan dengan jaminan kesempurnaan. Kehadiran wahyu memperkuat keyakinan bahwa agama Islam berdiri di atas fondasi yang murni dan terpelihara.

Psikologis. Nabi Muhammad ﷺ menunjukkan kegelisahan manusiawi saat menerima wahyu, khawatir lupa dan berusaha cepat menggerakkan bibir. Hal ini menggambarkan sisi kemanusiaan beliau, sekaligus menegaskan bahwa kenabian tidak menghapus sifat manusiawi, melainkan menyempurnakannya dengan bimbingan langsung dari Allah.

Ilmiah. Hadis ini menegaskan bahwa Al-Qur’an terpelihara secara sempurna oleh Allah. Nabi tidak perlu khawatir kehilangan ayat, karena Allah menjamin pengumpulan, bacaan, dan penjelasannya. Perspektif ilmiah ini memperkuat keyakinan bahwa teks Al-Qur’an otentik, konsisten, dan bebas dari perubahan sepanjang sejarah umat Islam.

Filosofis. Relasi antara usaha manusia dan jaminan ilahi tampak jelas. Nabi berusaha mengingat wahyu dengan menggerakkan bibir, namun Allah menegaskan bahwa kesempurnaan wahyu adalah tanggung jawab-Nya. Filosofisnya, manusia berikhtiar, tetapi hasil akhir ditentukan oleh kehendak dan jaminan Allah yang Maha Menjaga.

Leave a comment