Setiap manusia pasti pernah merasakan rasa takut: ada yang takut digigit ular, takut kehilangan kedudukan, hingga takut kepada Tuhan. Dalam perspektif psikologi agama, kebutuhan manusia terhadap Tuhan sering kali muncul karena adanya rasa takut terhadap kekuatan gaib yang tak mampu ia kendalikan.
Takut Terhadap Kekuatan Alam
Gunung meletus, badai, banjir, dan tsunami adalah contoh kedahsyatan alam yang membuat manusia mencari pelindung, sumber rasa aman, dan keselamatan hidup.
Makna Psikologis Takut
Secara kejiwaan, takut adalah kondisi yang dipenuhi rasa khawatir, gelisah, waswas, atau tidak nyaman terhadap sesuatu yang tidak diinginkan. Rasa takut bisa menjadi energi positif bila dimaknai dengan benar, namun dapat pula menjadi penghalang bila disalahartikan.
Takut dalam Al-Qur’an
Khauf: bentuk takut yang umum, cenderung membuat seseorang menghindar dari hal yang ditakuti.
Khasyyah: rasa takut yang lebih mendalam, disertai pengetahuan (ma’rifah). Khasyyah dilekatkan pada ulama yang benar-benar memahami kebesaran Allah (QS Fathir [35]: 28).
Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah di antara umatnya. Khasyyah bukan sekadar lari dari yang ditakuti, melainkan berpegang teguh pada ilmu dan kesadaran akan kebesaran-Nya.
Takut dalam Akhlak Tasawuf
Bagi seorang Mukmin, rasa takut harus dimaknai positif:
Mendorong untuk menunaikan kewajiban.
Menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya.
Menambah amalan sunah.
Menghindari perkara syubhat yang samar hukumnya.
Enam hal yang patut ditakuti Mukmin
- Siksa Allah akibat dosa-dosa.
- Tidak mampu menunaikan kewajiban kepada Allah dan sesama.
- Amal ibadah yang tidak diterima.
- Fitnah dan kemurkaan Allah di dunia.
- Su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk).
- Azab kubur, pengadilan, dan azab akhirat.
Pandangan Ibn al-Qayyim al-Jauziyah
Takut kepada Allah adalah kewajiban. Rasa takut ini menuntun hamba untuk beribadah dengan penuh ketundukan. Tanpa rasa takut, manusia mudah terjerumus dalam maksiat, menjadi serakah, dan kehilangan rasa malu (QS Ali Imran [3]: 175).
Buah dari rasa takut yang benar
Membentuk visi masa depan yang kuat, menyiapkan generasi tangguh (QS an-Nisa’ [4]: 9). Mengantarkan hamba kepada ridha Allah, puncak cinta tertinggi, dan akhirnya surga-Nya (QS al-Bayyinah [98]: 8).
Takut kepada Allah SWT menjadikan seorang hamba semakin dekat dengan-Nya. Dengan demikian, ia tidak lagi takut kehilangan jabatan, takut pada atasan, atau takut akan masa depan, karena keyakinannya bahwa perlindungan sejati hanya datang dari Allah.
